Kemesraan Ini – Puisi Cinta Buya Syakur

  • Post author:

KEMESRAAN INI

Pada saat engkau wahai kekasihku, ingin melakukan perebuhan inovasi, modifikasi apa saja,

terlebih dahulu engkau harus siap mental diolok-olok orang banyak.

Mungkin karena yang sedang engkau lakukan menurut mereka adalah kemustahilan, itu biasa.

Bahan eksperimen yang sedang engkau tangani sekarang adalah membangun kemesraan

diatas paradigmamu sendiri,yang dianggap anehbagi kebanyakan orang.

Memang betul ketika engkau duduk bersandar dibawah pohon rindang, berteduh dibawah dedaunan yang lebat,

sehingga engkau merasakan kesejukan sumilir angin, aku menduga pohon-pohon itu bukan engkau yang menanam.

Untuk itu aku memohon kepadamu wahai kekasihku, renungkan lagi, paradigmamu yang engkau anggap baru,

ternyata sudah ditanam oleh orang terdahulu, sekarang engkau ikut menikmatinya.

Prilakumu dianggap aneh, bentuk konatifmu terlihat nyeleneh, juga sikapmu sehari-hari dalam bermasyarakat,

dengan manusia-manusia yang ada disekitarmu,merupaka bentuk efektif yang tidak lumrah.,

Akan tetapi aku harus mengakui dengan jujur, niai-nilai kognitif yang engkau pertontonkan

ditengah teman-teman memang luar biasa, segala macam disiplin ilmu, engkau hampir mengerti.

Tetapi hidup tidak cukup mengandalkan kecerdasan, ternyata mengakui kebaikan orang lain

Juga merupakan kunci keberhasilan dalam kehidupan. Apa artinya engkau dengan kecerdasanmu hanya duduk manis,

hayalan melambung tinggi, sementara orang lain bangun pagi dengan berbekal semangat, bekerja keras

sepanjang hari, dengan sungguh-sungguh ingin menggapai cita-cita bukan dengan sengget angan-angan.

Bila engkau, wahai kekasihku, masih tetap mengandalkan kecerdasanmu, berpegang teguh dengan kedisplinan tinggi,

berangkat kerja jam enam pagi dan pulang jam lima sore dengan gaji ditakar atasan dan pimpinanmu,

jangan berharap akan menjadi orang yang kaya raya. Ingin jadi orang kaya, bukan mengandalkan kecerdasanmu semata,

apalagi bergantung kepada pemodal-pemodal kaya, tetapi bergantunglah kepada Yang Maha Kaya,

Dia yang Memiliki Segala-galanya, Pemilik Alam Semesta.

Pada saat engkau sudah bergantung hanya kepada Tuhanmu, wahai kekasihku, sekalipun engkau belum dapat

membuktikan dengan materi yang berlimpah ruah,tetapi engkau sudah menjadi orang yang kaya raya.

Didalam hatimu ada kekayaan yang luar biasa. Pertama Tuhanmu yang Maha Kaya. Kedua cinta besarku yang telah aku wakafkan untuk dirimu.

Ketiga kemesraan ini yang dapat membawa dirimu terbang melayang keluar angkasa,untuk merebut semua cita-cita dan harapanmu.

Andaikan engkau belum dapat menggantungkan diri sepenuhnya kepada Tuhanmu, tetapi apa salahnya sejak sekarang engkau mulai

belajar setapak-demi setapak, selangkah-demi selangkah menuju kepasrahan total dan bergantung sepenuhnya kepada Yang Maha Kaya.

Nanti paling tidak, wahai kekasihku, buktikan saja dulu dengan perilakumu secara profesional,

seolah engkau terlihat seperti orang yang sudah berpasrah kepada Tuhanmu.

Aku tidak mendidikmu menjadi munafik, tetapi ingin memberikan pelajaran bagaimana caranya menuntun hati.

Betapa lelahnya, wahai kasihku bekerja keras, banting tulang, peras keringat, siang jadi malam dan malam jadi siang,

kepala jadi kaki dan kaki jadi kepala, jungkir balik tak pernah berhenti, untuk melakukan pencitraan-pencitraan bertahun-tahun.

Tetapi setelah tercapai citra yang baik itu, lalu tumbang seketika hanya dalam waktu beberapa menit saja, dipenghujungnya adalah kekecewaan.

Nanti ketika engkau sudah jadi orang besar dan kekayaan sudah berlimpah ruah harus engkau pagari dirimu dengan kepedulian sosial,

lalu nanti akan muncul pesaing-pesaing yang lebih canggih dari kecerdasan dirimu.

Tidak salah juga bila engkau belajar dari mereka yang jadi pesaing-pesaingmu, sebagai nara sumber tunggalmu.

Maksudku belajar dari mereka pesaing itu, bukan meniru cara-cara liciknya, tetapi belajar bagaimana menangkal kelicikan mereka.

Nanti di akhirnya wahai kasih, untuk mengetahui apakah engkau sudah kaya, tolok ukurnya sangat sederhana sekali,

ketika engkau masih dapat menghitung berapa jumlah uangmu, berarti engkau masih miskin.

Yang aku inginkan engkau menjadi orang kaya itu, sampai ketika engkau sudah tidak mampu menghitung jumlah uang

yang engkau miliki, nanti engkau sudah tidak lagi menghitung uang dengan memutar mesin.

Tetapi tasbih yang ada dtangan kananmu engkau putar sepanjang malam,

sambil menyanyikan lagu kemesraan ini,ditengah hujan rintik menetes dari bola matamu.

Indramayu 14-02-2019

Buya Syakur Yasin

Baca Juga disini

This Post Has One Comment

Comments are closed.